Dalam perjalan ke TKP, tak sengaja kulihat seorang dengan seragam “dinas” oranye kebanggaannya, senjata tumpul berganggang di tangannya, sebuah topi koboy yang melingkar di kepalanya, dan sebuah keikhlasan yang terpancar dari dirinya, berdiri dengan khusyuknya di pesisir jalan raya sedang melakukan “ritual” paginnya. Ya, seorang tukang Sapu Jalanan dengan sebongkah kesabarannya setiap hari tidak pernah absen membersihkan jalanan-jalanan agar kita nyaman melewatinya. Mengumpulin sampah-sampah akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab yang membuang sampah tidak pada tempatnya, menyapu di jalan raya dengan segala resikonya, dan apa-apa aja deh yang berhubungan dengan kebersihan di jalan raya. Tapi, jarang banget yang peduli ama mereka, mereka yang ikhlas menjalani pekerjaan menjadi pasukan oranye ini, eh.. di anggap sebagai orang bawahan yang pekerjaannya di sepelekan. Ih, padahal kalau nggak ada mereka tuh, nggak tau dah jadinya jalanan kita tuh kayak apa.
Sama halnya seperti seorang Petani. Dia yang selalu berangkat dengan bertelanjang kaki dengan topi khasnya membawa sebuah “senjata tajam” yang tersandar kokoh di bahunya. Dia ini beti-beti (beda tipis :p) sama Pasukan Oranye tadi, seorang yang selaluuu di lupakan ama kebanyakan orang. Tau gak sih apa jasa orang ini?
Orang ini lah yang memberi makan kita semua, termasuk dewa-dewa berdasi pemimpin negeri ini.
Dewa-dewa yang seenaknya berkuasa di negeri ini yang tak pernah memperhatikan kesejahteraan mereka, janji-janji busuk yang terlontar menguap setelah duduk di kasta-kasta tinggi pemerintahan negeri ini.
Dengan sepotong doa dari keluarga ia berangkat menuju “petak kehidupan”-nya di kaki-kaki pegunungan, dengan penuh kesabarannya inilah, dia melakukan semua prosedur-prosedur reguler menanam Padi. Mulai dari sawah yang harus di bajak sebelum di tanam, nanamnya lagi, pengairannya, membasmi hama-hamanya, ampe nungguin si batang padi pada nunduk! Bayangkan coba bagaimana keikhlasan mereka itu? Mungkin taraf Sabar dan Ikhlas mereka tuh sudah tinggi kali ya.
Kita yang tinggal makan, makan doang itu! Sering menyisakan nasi yang masih banyak di piring kita, nggak sadarkah ama perjuangan para petani yang menunggu-nunggu berbulan-bulan supaya padi jadi beras? Apakah bisa kita seperti mereka?
Termasuk para Dewa-dewa berdasi Pemimpin negeri ini tadi tuh yang nggak pernah memerhatikan kesejahteraan orang-orang kecil yang berjasa besar ini. Mungkin mereka lupa bahwa mereka bs makan nasi karena sebuah jasa petani. Bayangkan aja kalau nggak ada orang yang mau berprofesi sebagai seorang petani? Mungkin semua halaman belakang rumah warga adalah sawah semua -___-
Untuk itulah, sudah saatnya kita banyak menghargai setiap orang dan setiap profesi yang di jalaninya.
"Tuhan punya takdir dan tujuan yang baik kepada ummat-Nya. Sudah sepantasnya kita bersyukur untuk semua rezeki dan karunia yang di berikan-Nya."
Sebenarnya masih banyak contoh-contoh para pendekar-pendekar yang terlupakan seperti buruh bangunan, tukang sampah, nelayan, dan lain-lain. Tapi, udara di sini tak mendukung untuk menulis lagi, dan semua inspirasi di kepala ini telah lenyap menguap akibat dinginnya di sini. Mungkin kusudahi saja tulisanku hari ini. Terima Kasih untuk mereka yang menginspirasiku untuk menulis lagi. See ya!
Di sebuah kamar. (13/01)
Jam 08 lewat 45 menit di selimuti Pagi yang dingin!